Pada Sebuah Penghujung Tahun (2018 Review)

Tahun 2018 tinggal hitungan menit saja. Entah hanya perasaanku atau memang tahun ini berjalan begitu cepat, banyak hal terjadi di tahun ini tetapi rasanya kayak baru kemarin aja. ternyata sudah tanggal 31 Desember. Aku mau coba me-review apa aja yang udah aku alami selama setahun ini, beberapa udah “direncanakan” ada postingannya masing-masing. tapi karena satu dan lain hal postingan itu selalu saja nggak kelar. contohnya postingan mBandung yang baru ada 1 part terus berhenti.

Januari

Hal yang paling berkesan di Januari adalah waktu jalan-jalan ke Bandung. Itu pengalaman pertamaku travelling dengan rencana yang aku susun sendiri. Berawal dari 5 Januari hingga tanggal 9 Januari udah menginjakkan kaki di Jogja lagi, 3 hari 3 malam di Kota Kembang sungguh meninggalkan kesan, dingginnya Lembang, ramainya alun-alun kota dan sekitarannya, sepinya ITB karena lagi liburan, indahnya pemandangan malam di Cihampelas, dan tidak lupa maceutnya Kota Bandung yang naudzubillah. bari di sini aku merasakan naik motor di jalan raya 4 ruas, dan streesnya minta ampun. Dari situ aku mulai menyadari betapa nyamannya Jogja untuk kau tinggalkan.

Februari

Selang sebulan setelah nyepur sampai Bandung, sekarang giliran nyepur sampai ke Solo. Waktu itu aku diminta ketuaku untuk mewakili Paguyuban KSE UGM ikut Entrepreneur Academy di Solo, bersama anak-anak peserta EA dari UGM juga dan bertemu banyak peseta dari berbagai PTN afiliasi beasiswa KSE. Karena cuma perwakilan aja jadinya aku cuma ikut pelatihannya selama 3 hari awal aja, setelah itu dipulangkan kembali. Peserta yang dapat undangan khusus sebagai perwakilan bukan cuma UGM aja, tapi PTN-PTN yang ada di Pulau Jawa juga diundang, tujuannya sih untuk memberi insight kepada masing-masing paguyuban demi menghadapi program paguyuban mandiri. Selain itu di bulan ini juga dimulailah prosesi penambalan gigi geraham kiri belakangku yang ternyata bolong gede.

Maret

Tidak begitu banyak event yang berkesan di bulan ini, cuma aku pergi ke luar lagi. Kali ini aku ke Semarang buat memenuhi undangan campus expo dari temen-temen KSE UNDIP, di sana yah cuma duduk aja di booth sambil nungguin pengunjung yang datang. Nyaris nggak sempet pergi ke mana-mana lantaran acaranya hari Minggu dan harus ngejar bus pulang ke Jogja paling sore.
Selain itu di bulan ini juga ada hal yang menyedihkan, dunia fisika kehilangan sosok yang berpengaruh, Stephen Hawking, pada tanggal 14 bertepatan dengan hari ulang tahun Albert Einstein.

April

Bukan judul lagu Fiersa Besari ya.
Bulan April event yang paling berkesan adalah menemani adik-adik siswa rumah belajar superbedjo jalan-jalan keliling UGM, literally jalan ya. Kita jalan kaki dari jam 7 pagi start di Stadiun Pancasila dan berakhir tepat maghrib di Fakultas Teknik. Bisa dibilang 12 jam ini ngelilingi UGM, aku pun baru kali ini juga menjelajahi UGM seniat ini. Biasanya ke fakultas lain kalo ada perlunya aja. Bulan ini juga film Avenger Infinity War tayang.

Mei

Bulan ini adalah penentuan gigiku yang ditambal akhirnya harus dicabut dan itu bertepatan dengan bulan puasa. Good. Setidaknya penderitaan ini sudah berakhir. Di bulan ini juga awal dari apa yang istimewa di Agustus, Fia, temanku dari Farmasi, mengajak untuk ikut lomba yang diselenggarakan PT Kino Indonesia menggunakan topik PKM yang gagal diajukan semester lalu. Dan Essen Cafe menjadi saksi bisu 2 orang mahasiswa menyusun proposal selama 4 jam.
Selain itu di bulan Mei merupakan buka bersama Fisika angkatan 2015 yang terakhir, bisa dibilang terakhir karena di puasa tahun depan kita nggak akan full team lagi. Pasti satu per satu dari kita akan lulus dan meninggalkan Jogja pada waktunya.

Juni-Juli

Aku jadikan satu karena ini adalah bulan pelaksanaan KKN, sehingga bulan Juni dan Juli hanya ada 1 event untuk diceritakan. Lainnya hanyalah sebagian kecil dari event tersebut. Aku KKN di Banjarnegara, tepatnya di Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Cerita lengkapnya akan aku buatkan postingan tersendiri nantinya. Singkatnya di bulan ini banyak sekali kesannya, mulai dari 26 Juni, hari ulangtahunku, dirayakan di lokasi KKN bersama teman satu subunit (kelompok dalam pondokan) yang tidak kusangka akan dibuatkan kejutan berupa omellet (bisanya aku menyebutnya pizza mie) pas malam harinya kami kumpul di pondokan cewek, karena ini baru hari ketiga di lokasi jadi kami belum banyak kegiatan isinya ya cuma bikin rancangan-rancangan terus sampai mampus.
Selain itu juga di Bulan Juli, aku berhasil mengamati fenomenal langka gerhana bulan total. beruntungnya di desa KKN-ku sedikit polusi cahayanya, sehingga jelas terlihat bintang-bintang di langit dan bulannya pada malam hari. sangat menggembirakan untuk penggemar langit. pemandangan siang di desaku itu juga nggak kalah kerennya, karena desa Giritirta berada di daerah pegununggan jadi masih segar suasanya lingkungannya. nanti di postingan panjang aku beri gambaran betapa segarnya Giritirta.

Agustus

Di bulan Juni lalu, aku mendapat kado yang sangat spesial. Lomba yang aku ajukan bersama Fia bulan Maret lalu lolos ke tahap final, yaitu presentasi yang diselenggarakan di kantornya Kino di Tangerang. Satu hal lagi yang tidak pernah aku kira adalah, dari panitia menyediakan transportasi berupa pesawat dari Jogja. Sungguh, ini adalah mimpiku di tahun 2016 yang baru terwujud. Cerita lengkapnya akan aku buatkan di postingan tersendiri, yang saat ini udah ada di draft.
Bulan ini juga aku lengser dari Menteri Rumah Belajar di Paguyuban KSE UGM dan terpilih jadi Ketua untuk periode berikutnya (nggak jadi lengser dong).

September

Bulan ini, kembali aku terpilih menjadi ketua. Kali ini di komunitas luar kampusku, StudentsxCEOs Jogja Chapter. Selebihnya tidak ada hal yang begitu berkesan untuk diceritakan di September

Oktober

Aku mengikuti pelatihan lagi dari beasiswaku, tapi kali ini sebagai panitia. karena pelatihannya ditujukan kepada mahasiswa penerima baru, pelatihan yang bareng sama anak UNDIP ini mengambil tempat di tengah-tengah Jogja-Semarang yaitu di Salatiga. Selama 3 hari 2 malam aku menyadari betapa capeknya officer yang mengurus pelatihan semacam ini, apalagi pelatihan yang beneran bisa memakan waktu seminggu lebih. nggak kebayang capeknya kayak gimana.
Dan di bulan ini aku mengikuti lomba debat bahasa Indonesia di UPN untuk kali pertamanya, tebak kami dapat peringkat berapa? peringkat 5 dari 10. tentu nggak lolos masuk final karena yang diambil ke semifinal 4 tim aja. tapi sebuah pencapaian yang lumayan untuk pemula.

November

Di Bulan November, ada beberapa event. Mulai dari makrab penerima KSE UGM, startup yang dirintis bersama temanku lolos ke inkubasi (dan mentornya ternyata alumnus SMA-ku), lomba paper difabelku dengan temanku lolos masuk final. Terus ada teman-teman KSE Untirta yang lagi lomba di Jogja, jadi aku nemenin mereka jalan-jalan di malioboro. Kebetulan lagi ada sekaten di alun-alun dan aku berhasil naik kora-kora untuk pertama kalinya.

Desember

Dan di penghujung tahun ini, usaha yang aku rintis bersama teman-temanku (Kampus Photography) memulai debutnya. Waktu terus bergulir dan tidak terasa kuliah pun memasuki penghujung semester, ini akhir dari semester ganjil di tahun keempat. Feeling old enough? Tahun depan memasuki seemester baru dan memasuki fase “mahasiswa tua”. di mana joke receh tentang skripsi yang selama ini aku anggap lebay ternyata benar adanya. aku pun udah mulai merasakannya. tetapi mau nggak mau pun itu harus dihadapi.

Yah cukup banyak event ternyata yang aku alami di tahun 2018 ini, dan benar juga aku merasakan waktu benar-benar cepat berlalu. Aku tidak menyangka jalan-jalan ke Bandungku itu udah setahun yang lalu dan KKN-ku ternyata juga setengah tahun lalu. Waktu akan terasa begitu cepat apalagi jika kamu tidak merekamnya. Untuk itulah aku coba kembali merekan events yang akan aku alami kedepannya di dalam blog ini lagi. Aku membuat resolusi untuk menulis kembali, karena aku merasa kemampuan menulisku kini mulai menurun dan meskipun waktuku kiti banyak luangnya tetap saja motivasi itu tak kunjung muncul. Oleh karenanya aku membuat sebuah program kecil-kecilan #30HariMenulisLagi di Twitter dan #OneMonthOnePost di blog ini. Aturannya simpel aja, cukup luangkan waktu 2 jam tiap hari untuk menulis, entah apapun itu yang ada di dalam pikiranku aku tuangkan lewat tweet setiap hari dalam sebulan dan di penghujung bulan akan aku rilis postingan baru di blog ini, baik itu tulisan lama maupun itu tulisan baru. dan di sini aku menyadari bahwa dokumentasi itu penting, itulah mengapa negeri timur tengah cukup berjaya pada masanya karena mereka selalu mendokumentasikan temuan-temuan mereka hingga akhirnya terjadi pemusnahan massal. hal itu yang membuat seluruh mahasiswa di dunia harus memiliki karya tulis agar ilmu yang ia miliki dapat terdokumentasikan dengan baik.

Kenangan yang tidak terdokumentasikan dengan baik tidak akan menjadikannya sebuah kenangan.

mBandung: Wacana Berujung Rencana (Bagian 1)

Jalan-jalan ke luar kota sendirian? Mungkin hal itu terdengar wajar dan mudah aja dilakukan bagi sebagian orang, tetapi tidak bagiku. Sebagai seorang berkepribadian introvert aku memang cenderung membatasi diri untuk lingkungan yang baru, lebih cenderung untuk diam aja dan mengamati ketimbang harus melakukan sesuatu yang menurutku wasting too much energy. Maka dari itu jalan-jalan sendiri menurutku suatu kemustahilan, apalagi jika harus pergi ke suatu tempat yang cukup asing bagiku. Memang sih aku udah sering ikut karyawisata atau sejenisnya dengan itinerary yang cukup jelas, di mana aku tinggal duduk dan menikmati penjalanan sebagaimana diatur. Hampir belum pernah aku merasakan suatu perjalanan di mana aku sendiri yang mengaturnya atas diriku sendiri.

 

Hingga suatu ketika—entah angin apa yang membawaku—aku tiba-tiba aja ingin merasakan jalan-jalan sendiri dengan itinerary yang aku atur sendiri dan menikmati perjalanaku secara bebas, bahasa kerennya melancong. Bandung menjadi tujuan pertamaku melakukan perjalanan ini, padahal aku udah pernah ke sini ketika memasuki tahun kedua kuliah bersama rombongan himpunan mahasiswa. Waktu itu kami berkunjung ke ITB dan LAPAN. Alasanku memilih Bandung sebagai the first experience, mungkin karena aku udah pernah ke sana sebelumnya, meskipun kurang maksimal karena hanya satu hari saja (kebayang kan betapa padat itinerary-nya). Jadi perjalanan kali ini merupakan pemuas napsu yang belum kesampaian di perjalanan sebelumnya. Alasan lain karena ada temen semasa SMA yang kuliah di sana, jadi untuk akomodasi udah beres lah. Pikirku.

 

Aku merencanakan perjalanan ini cukup lama, ya hanya sekadar mematangkan niat bahwa aku akan pergi tetapi belum sampai detail ke mana saja dan bagaimana caranya, setidaknya sejak awal semester 5 sudah kupikirkan baik-baik termasuk menabung dari uang beasiswa bulananku. Aku berencana untuk ke Bandung pada liburan semester di Bulan Januari nanti. Kebanyakan dari teman-temanku mengambil kerja praktik pada liburan ini, tetapi aku sengaja tidak mengambil karena ingin menikmati liburan dengan jalan-jalan. Alasan lainnya karena belum ada suatu tempat yang menarik minatku untuk melaksanakan kerja praktik.

*****

Tetapi rencana hanyalah rencana, karena setelah itu aku tidak memikirkannya lebih olanjut dan melakukan aktivitas seperti biasa di kampus. Terlebih lagi pada semester ini aku mengambil 2 mata praktikum, sehingga dalam seminggu kedua laporan praktikum itu meraung-raung minta diperhatikan. Hingga suatu hari pada sebuah grup percakapan di LINE

“Kangen Bandung” ujar Bayu

“Aku Januari mau ke sana Bay” sahut Fatih

“Mau ngapain?”

“KP” singkatan dari kerja praktik

Merasa seide, aku pun ikut bergabung di percakapan mereka “Aku rencana mau jalan ke Bandung liburan besok”

“Ayo An berangkat bareng” sahut Fatih lagi

“Ikutan dong kalo mau main ke Bandung” kini Bayu ikut menimpali

Merasa mendapatkan teman seperjalanan, aku pun bersemangat untuk melanjutkan wacana yang udah aku canangkan berbulan-bulan lalu. Berhubung ini memasuki minggu-minggu UAS jadi ya diselesaikan dulu tanggungan yang satu ini

*****

Beberapa hari kemudian, ketika isi bahasan di grup sudah mulai berubah, tiba-tiba ada yang nyeletuk

“Hayu ke Bandung, konkrit iki” dialah Fiesha, orang yang sering susah sinyal sehingga sering telat respon ketika di grup. Fiesha menanggapi percakapan kami yang tentang Bandung beberapa hari lalu.

 

“Angkringan Pak Panut yo ntar malem, sekalian kita planning ke Bandungnya” Bayu pun angkat suara mengajak anak-anak grup buat nongkrong nanti malem. Berhubung UAS-ku udah selesai jadi aku pun ayo ayo aja menanggapi ajakan Bayu, teman yang lain pun sepertinya juga sama. Aku pun melajukan sepeda motorku, tetapi tidak langsung menuju ke angkringan. Kami janjian buat ketemuan dulu di sekretariat sebelum maghrib, baru setelah sholat maghrib berangkat cari makan.

 

Maka di sinilah aku, di sebuah rumah bercat hijau di daerah Pandega Asih yang sering kami sebut Kardjo (singkatan dari kantor idjo), yang merupakan sekretariat dari paguyuban beasiswaku. Rumah ini kosong, belum ada seorang pun yang hadir. Padahal janjiannya jam 4 sore, kukira aku terlambat. Batinku, jam tanganku menunjukkan pukul 16:30 WIB. Lalu aku mengambil kunci rumah yang disimpan di tempat rahasia dan memasuki Kardjo. Kunyalakan lampu karena ruang tengah tampak gelap sore ini, kemudian aku tiduran di ruang tengah sambil memainkan gitar akustik yang tergeletak tak jauh dari tempatku. Beberapa lagu kemudian terdengar suara motor terparkir di depan Kardjo, dari suara motornya aku menebak bahwa Fatihlah yang datang.Aku coba mengintip dari balik jendela kamar depan dan tebakanku benar. Selang beberapa menit kemudian terdengar suara motor Bayu perlahan mulai mendekat. Tidak lama kemudian berkumpullah kami yang akan pergi nongkrong ke angkringan Pak Panut di Kardjo.

*****

Seminggu berlalu sejak pertemuan di angkringan Pak Panut, aku tengah menikmati konser Payung Teduh yabg digelar di Stadiun Mandala Krida, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada sebuah kabar baik dan kabar buruk, kabar baiknya Fatih sudah membelikan tiket keberangkatan ke Bandung dengan kereta pada tanggal 5 Januari nanti dan kabar buruknya Bayu batal berangkat karena pada bulan Januari nanti ada acara keluarga yang nggak bisa ia tinggalkan. Jadilah tinggal kami bertiga (Aku, Fatih, dan Fiesha) yang berangkat ke Bandung nanti.

“Kita dapetnya kereta pasundan, kahuripannya habis” ujar Fatih melalui LINE. Rencana awal kami inginnya naik kahuripan yang berangkat jam 7 malam dari Jogja sehingga tepat sampai di Bandung waktu subuh, akan tetapi mungkin karena musim liburan sehingga kami pun kehabisan tiket kereta itu dan terpaksa naik pasundan yang berangkat jam 2 siang.

“Sampai sana jam berapa berarti?” tanyaku

“Ya paling tengah malem” jawabnya

Aku segera menghubungi Udin, temanku yang kuliah di Bandung, untuk memastikan apakah aku bisa numpang di kos dia begitu sampai di sana.

“Aku balik Bandung tanggal 4 kok, jadi tanggal 5-nya udah stand by di sana”

“Oke sip, makasih ya” ujarku menutup pembicaraan.

Fokusku kembali kepada panggung, kini Sheila on 7 tengah menyanyikan lagu “Lapang Dada” di sana. Jadi juga aku berangkat ke Bandung, batinku.

 

Bersambung

Kimi no Na wa (Your Name), Bukan Sekadar Nama

Aku pun mulai mencari dirimu dari sejak kehidupanmu yang sebelumnya
Mengingat senyum yang kaku itu, aku pun akhirnya datang kembali

Cuplikan lirik di atas merupakan terjemahan dari lagu Zen Zen Zense yang dinyanyikan oleh Radwimps, grup band asal Negeri Sakura tersebut baru saja dirilis album baru pada bulan Agustus lalu yang dijadikan Original Soundtrack (OST) film animasi Jepang “Kimi no Na wa” karya Makoto Shinkai bersama CoMix Waves Films.

Film yang tayang perdana di Jepang pada bulan Agustus 2016 lalu, mulai merambah layar lebar dalam negeri pada tanggal 7 Desember 2016.  Kimi no Na wa, atau dalam bahasa Inggris “Your Name”, sangat ditunggu-tunggu oleh penggemar animasi Jepang di Indonesia, terlebih lagi mereka yang memang menggemari karya dari Makoto Shinkai. Animo penggemar sangat tinggi, bahkan ada yang membuat acara nonton bareng saat pemutaran perdana di CGV Blitz J-Walk Jogja. Sayang pemutaran perdana bertepatan dengan jadwal ujian akhir semester sehingga harus aku batalkan rencana untuk menonton.

Kebetulan sahabatku yang kuliah di Purwokerto sedang weekend ke Jogja dan mengajak buat nonton film itu pada hari jumatnya, Nggak premier setidaknya nontonlah, pikirku saat itu. Maka pada hari Jumat, 9 Desember kemarin akhirnya aku berhasil menonton Kimi no Na wa di CGV Blitz Hartono Mall Jogja. Continue reading “Kimi no Na wa (Your Name), Bukan Sekadar Nama”

GPS itu Sesat, Jendral!

Hari ini salah satu temanku, Jeje, pulang ke Berau, Kalimantan Timur. Aku sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, punya itikad baik untuk mengantarkan kepulangannya sampai bandara. Dia bilang minta dijemput jam 9, tapi begitu aku sampai asramanya dia belum kelar beres-beres.

akhirnya kami sampai bandara jam setengah 11, dia langsung pergi ke loket buat nukerin tiketnya. Pesawatnya take off jam 14:15 dan check-in baru boleh 2 jam sebelumnya. aku akhirnya menunggu sampai dia check-in, which is masih 1,5 jam lagi. berdiskusilah kami tentang hal-hal yang berbau fisika.

dua jam berlalu, dia mengurus check-in di terminal B dan harus menerima kenyataan ternyata pesawat yang akan ditumpanginya delay 45 menit. jadi dia baru take off jam 3 nanti. Jam setengah 2 aku memutuskan buat cabut duluan, Jeje juga nggak masalah kalo aku tinggal. Dia malah berterimakasih banget udah nemenin di detik-detik terakhirnya di Jogja (sedih banget nggak sih?)

kemudian setelah cabut dari bandara, aku ingat ada salah satu candi yang kata orang bagus nggak jauh dari bandara. Candi Ijo namanya, kemudian aku cari jalan ke sana pakai GPS. ketemulah rute ke sana sejauh 10 KM. keliatannya sih deket, tapi ternyata tidak semudah itu. setelah belok dari jalan piyungan-prambanan adalah jalan yang kecil dan berbatu-batu, udah macam jalan di goa cerme waktu BATRA Teater 10 dulu. Naik dan berbatu-batu. sempat khawatir juga ini motor kuat nggak sampai ke tujuan?

Walau halangan rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Kera Sakti~ (malah nyanyi?). lega juga begitu di ujung jalan menanjak ada tanda “Parkir pengunjung Wisata Candi Ijo”.

bener-bener worth it rasanya dengan medan yang sekejam itu, sayangnya di atas lagi berkabut (entah berkabut atau karena di bawah lagi mendung). padahal kalau langit lagi cerah bisa lihat kota Jogja dari ketinggian, dan yang terpenting bisa lihat bandara dan seisinya dari atas sini. Kalo malem pemandangan paling indah dari atas sini adalah kelap kelip lampu bandara. Candi ijo ini terletak di bukit ijo, itulah mengapan tempat ini cukup tinggi untuk melihat jogja dari udara. Candi ini terdiri dari 1 candi besar dan ada 3 candi kecil di sebelahnya.

merasa kayaknya cukup menikmati pemandangan alam di sini, aku memutuskan untuk balik ke realita. Aku coba mengkoneksikan lagi ke GPS tapi sinya di atas sini susah, untungnya masih ada GPS konvensional (baca: mas-mas yang jaga parkir). ternyata dari jalan menurun itu tinggal lurus aja terus udah tembus ke jalan piyungan-prambanan, jalan pulangku lurus dan manusiawi. sial GPS menyesatkanku, jadi ternyata jalan yang ditunjukkan GPS tadi jalan memutar, aku harus ke timur dulu baru ke utara terus ke barat. padahal jalan yang lurus dan benar itu hanya perlu belok ke utara dari jalan piyungan prambanan.

dan ada hal yang bikin lebih nyesek, begitu sampai di rumah aku dikabari temenku bahwa nilai matkul kimia kontekstual udah keluar. dan yah, nyess rasanya. dari 4 matkul yang udah keluar nilainya semua tidak mengubah IP ku, dan matkul kelima ini berhasil mengubahnya. dalam artian buruk ya.