Kimi no Na wa (Your Name), Bukan Sekadar Nama

Aku pun mulai mencari dirimu dari sejak kehidupanmu yang sebelumnya
Mengingat senyum yang kaku itu, aku pun akhirnya datang kembali

Cuplikan lirik di atas merupakan terjemahan dari lagu Zen Zen Zense yang dinyanyikan oleh Radwimps, grup band asal Negeri Sakura tersebut baru saja dirilis album baru pada bulan Agustus lalu yang dijadikan Original Soundtrack (OST) film animasi Jepang “Kimi no Na wa” karya Makoto Shinkai bersama CoMix Waves Films.

Film yang tayang perdana di Jepang pada bulan Agustus 2016 lalu, mulai merambah layar lebar dalam negeri pada tanggal 7 Desember 2016.  Kimi no Na wa, atau dalam bahasa Inggris “Your Name”, sangat ditunggu-tunggu oleh penggemar animasi Jepang di Indonesia, terlebih lagi mereka yang memang menggemari karya dari Makoto Shinkai. Animo penggemar sangat tinggi, bahkan ada yang membuat acara nonton bareng saat pemutaran perdana di CGV Blitz J-Walk Jogja. Sayang pemutaran perdana bertepatan dengan jadwal ujian akhir semester sehingga harus aku batalkan rencana untuk menonton.

Kebetulan sahabatku yang kuliah di Purwokerto sedang weekend ke Jogja dan mengajak buat nonton film itu pada hari jumatnya, Nggak premier setidaknya nontonlah, pikirku saat itu. Maka pada hari Jumat, 9 Desember kemarin akhirnya aku berhasil menonton Kimi no Na wa di CGV Blitz Hartono Mall Jogja. Continue reading “Kimi no Na wa (Your Name), Bukan Sekadar Nama”

GPS itu Sesat, Jendral!

Hari ini salah satu temanku, Jeje, pulang ke Berau, Kalimantan Timur. Aku sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, punya itikad baik untuk mengantarkan kepulangannya sampai bandara. Dia bilang minta dijemput jam 9, tapi begitu aku sampai asramanya dia belum kelar beres-beres.

akhirnya kami sampai bandara jam setengah 11, dia langsung pergi ke loket buat nukerin tiketnya. Pesawatnya take off jam 14:15 dan check-in baru boleh 2 jam sebelumnya. aku akhirnya menunggu sampai dia check-in, which is masih 1,5 jam lagi. berdiskusilah kami tentang hal-hal yang berbau fisika.

dua jam berlalu, dia mengurus check-in di terminal B dan harus menerima kenyataan ternyata pesawat yang akan ditumpanginya delay 45 menit. jadi dia baru take off jam 3 nanti. Jam setengah 2 aku memutuskan buat cabut duluan, Jeje juga nggak masalah kalo aku tinggal. Dia malah berterimakasih banget udah nemenin di detik-detik terakhirnya di Jogja (sedih banget nggak sih?)

kemudian setelah cabut dari bandara, aku ingat ada salah satu candi yang kata orang bagus nggak jauh dari bandara. Candi Ijo namanya, kemudian aku cari jalan ke sana pakai GPS. ketemulah rute ke sana sejauh 10 KM. keliatannya sih deket, tapi ternyata tidak semudah itu. setelah belok dari jalan piyungan-prambanan adalah jalan yang kecil dan berbatu-batu, udah macam jalan di goa cerme waktu BATRA Teater 10 dulu. Naik dan berbatu-batu. sempat khawatir juga ini motor kuat nggak sampai ke tujuan?

Walau halangan rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Kera Sakti~ (malah nyanyi?). lega juga begitu di ujung jalan menanjak ada tanda “Parkir pengunjung Wisata Candi Ijo”.

bener-bener worth it rasanya dengan medan yang sekejam itu, sayangnya di atas lagi berkabut (entah berkabut atau karena di bawah lagi mendung). padahal kalau langit lagi cerah bisa lihat kota Jogja dari ketinggian, dan yang terpenting bisa lihat bandara dan seisinya dari atas sini. Kalo malem pemandangan paling indah dari atas sini adalah kelap kelip lampu bandara. Candi ijo ini terletak di bukit ijo, itulah mengapan tempat ini cukup tinggi untuk melihat jogja dari udara. Candi ini terdiri dari 1 candi besar dan ada 3 candi kecil di sebelahnya.

merasa kayaknya cukup menikmati pemandangan alam di sini, aku memutuskan untuk balik ke realita. Aku coba mengkoneksikan lagi ke GPS tapi sinya di atas sini susah, untungnya masih ada GPS konvensional (baca: mas-mas yang jaga parkir). ternyata dari jalan menurun itu tinggal lurus aja terus udah tembus ke jalan piyungan-prambanan, jalan pulangku lurus dan manusiawi. sial GPS menyesatkanku, jadi ternyata jalan yang ditunjukkan GPS tadi jalan memutar, aku harus ke timur dulu baru ke utara terus ke barat. padahal jalan yang lurus dan benar itu hanya perlu belok ke utara dari jalan piyungan prambanan.

dan ada hal yang bikin lebih nyesek, begitu sampai di rumah aku dikabari temenku bahwa nilai matkul kimia kontekstual udah keluar. dan yah, nyess rasanya. dari 4 matkul yang udah keluar nilainya semua tidak mengubah IP ku, dan matkul kelima ini berhasil mengubahnya. dalam artian buruk ya.

Hari Minggu, Hari Mencuci (?)

UTS sudah berakhri dua hari lalu, tetapi memang akhir-akhir ini aku merasa penat yang amat sangat. Mulai memuncak sejak berakhirnya UTS Kalkulus Senin lalu dan disusul matematika kontekstual hari berikutnya. sejak saat itu entah mengapa motivasi belajarku sirna sudah. Sebenernya bukanlah UTS kalkulus yang menjadi penyebab utamanya, tetapi suatu yang sangat tidak ingin aku singung lagi. Teman-temanku menyuruhku untuk mencari kesibukan agar bisa melupakan kejadian itu dengan mudah, tetapi tanpa mencari kesibukan pun aku sudah merasa sibuk entah mengapa. Padahal ini masih pertengahan dari awal semester aku di bangku kuliah. Memang sih aku udah biasa sibuk semasa SMA, tapi di kuliah ini benar-benar beda. Beda banget dari SMA. Sesibuk-sibuknya aku semasa SMA dulu tidak pernah merasa sampai sepenat ini, Bahkan sekarang aku harus mengatur jadwal kegiatanku sedemikian rupa agar nggak keteteran sendiri, hal yang jarang sekali aku lakukan saat SMA dulu.

Tapi mencari kesibukan bukahlah jalan satu-satunya ternyata, bahkan temanku Jeje, anak Kalimantan Timur, berkata padaku “Kamu berani mengatur jadwal untuk kesibukanmu, tapi kenapa nggak untuk istirahatmu?” Dia benar. Saat ini aku merasa istirahat adalah hal yang tak perlu untuk dijadwalkan secara khusus, cukuplah mencuri-curi waktu buat istirahat. Tapi ternyata mainset itu salah, justru hal seperti itu lah yang paling gampang memicu stres. Kita manusia bukan robot, sudah seharusnya kita menyediakan waktu untuk beristirahat. Komputer aja jika kita pakai terus-terusan akan panas kan CPU-nya? Continue reading “Hari Minggu, Hari Mencuci (?)”