mBandung: Wacana Berujung Rencana (Bagian 1)

Jalan-jalan ke luar kota sendirian? Mungkin hal itu terdengar wajar dan mudah aja dilakukan bagi sebagian orang, tetapi tidak bagiku. Sebagai seorang berkepribadian introvert aku memang cenderung membatasi diri untuk lingkungan yang baru, lebih cenderung untuk diam aja dan mengamati ketimbang harus melakukan sesuatu yang menurutku wasting too much energy. Maka dari itu jalan-jalan sendiri menurutku suatu kemustahilan, apalagi jika harus pergi ke suatu tempat yang cukup asing bagiku. Memang sih aku udah sering ikut karyawisata atau sejenisnya dengan itinerary yang cukup jelas, di mana aku tinggal duduk dan menikmati penjalanan sebagaimana diatur. Hampir belum pernah aku merasakan suatu perjalanan di mana aku sendiri yang mengaturnya atas diriku sendiri.

 

Hingga suatu ketika—entah angin apa yang membawaku—aku tiba-tiba aja ingin merasakan jalan-jalan sendiri dengan itinerary yang aku atur sendiri dan menikmati perjalanaku secara bebas, bahasa kerennya melancong. Bandung menjadi tujuan pertamaku melakukan perjalanan ini, padahal aku udah pernah ke sini ketika memasuki tahun kedua kuliah bersama rombongan himpunan mahasiswa. Waktu itu kami berkunjung ke ITB dan LAPAN. Alasanku memilih Bandung sebagai the first experience, mungkin karena aku udah pernah ke sana sebelumnya, meskipun kurang maksimal karena hanya satu hari saja (kebayang kan betapa padat itinerary-nya). Jadi perjalanan kali ini merupakan pemuas napsu yang belum kesampaian di perjalanan sebelumnya. Alasan lain karena ada temen semasa SMA yang kuliah di sana, jadi untuk akomodasi udah beres lah. Pikirku.

 

Aku merencanakan perjalanan ini cukup lama, ya hanya sekadar mematangkan niat bahwa aku akan pergi tetapi belum sampai detail ke mana saja dan bagaimana caranya, setidaknya sejak awal semester 5 sudah kupikirkan baik-baik termasuk menabung dari uang beasiswa bulananku. Aku berencana untuk ke Bandung pada liburan semester di Bulan Januari nanti. Kebanyakan dari teman-temanku mengambil kerja praktik pada liburan ini, tetapi aku sengaja tidak mengambil karena ingin menikmati liburan dengan jalan-jalan. Alasan lainnya karena belum ada suatu tempat yang menarik minatku untuk melaksanakan kerja praktik.

*****

Tetapi rencana hanyalah rencana, karena setelah itu aku tidak memikirkannya lebih olanjut dan melakukan aktivitas seperti biasa di kampus. Terlebih lagi pada semester ini aku mengambil 2 mata praktikum, sehingga dalam seminggu kedua laporan praktikum itu meraung-raung minta diperhatikan. Hingga suatu hari pada sebuah grup percakapan di LINE

“Kangen Bandung” ujar Bayu

“Aku Januari mau ke sana Bay” sahut Fatih

“Mau ngapain?”

“KP” singkatan dari kerja praktik

Merasa seide, aku pun ikut bergabung di percakapan mereka “Aku rencana mau jalan ke Bandung liburan besok”

“Ayo An berangkat bareng” sahut Fatih lagi

“Ikutan dong kalo mau main ke Bandung” kini Bayu ikut menimpali

Merasa mendapatkan teman seperjalanan, aku pun bersemangat untuk melanjutkan wacana yang udah aku canangkan berbulan-bulan lalu. Berhubung ini memasuki minggu-minggu UAS jadi ya diselesaikan dulu tanggungan yang satu ini

*****

Beberapa hari kemudian, ketika isi bahasan di grup sudah mulai berubah, tiba-tiba ada yang nyeletuk

“Hayu ke Bandung, konkrit iki” dialah Fiesha, orang yang sering susah sinyal sehingga sering telat respon ketika di grup. Fiesha menanggapi percakapan kami yang tentang Bandung beberapa hari lalu.

 

“Angkringan Pak Panut yo ntar malem, sekalian kita planning ke Bandungnya” Bayu pun angkat suara mengajak anak-anak grup buat nongkrong nanti malem. Berhubung UAS-ku udah selesai jadi aku pun ayo ayo aja menanggapi ajakan Bayu, teman yang lain pun sepertinya juga sama. Aku pun melajukan sepeda motorku, tetapi tidak langsung menuju ke angkringan. Kami janjian buat ketemuan dulu di sekretariat sebelum maghrib, baru setelah sholat maghrib berangkat cari makan.

 

Maka di sinilah aku, di sebuah rumah bercat hijau di daerah Pandega Asih yang sering kami sebut Kardjo (singkatan dari kantor idjo), yang merupakan sekretariat dari paguyuban beasiswaku. Rumah ini kosong, belum ada seorang pun yang hadir. Padahal janjiannya jam 4 sore, kukira aku terlambat. Batinku, jam tanganku menunjukkan pukul 16:30 WIB. Lalu aku mengambil kunci rumah yang disimpan di tempat rahasia dan memasuki Kardjo. Kunyalakan lampu karena ruang tengah tampak gelap sore ini, kemudian aku tiduran di ruang tengah sambil memainkan gitar akustik yang tergeletak tak jauh dari tempatku. Beberapa lagu kemudian terdengar suara motor terparkir di depan Kardjo, dari suara motornya aku menebak bahwa Fatihlah yang datang.Aku coba mengintip dari balik jendela kamar depan dan tebakanku benar. Selang beberapa menit kemudian terdengar suara motor Bayu perlahan mulai mendekat. Tidak lama kemudian berkumpullah kami yang akan pergi nongkrong ke angkringan Pak Panut di Kardjo.

*****

Seminggu berlalu sejak pertemuan di angkringan Pak Panut, aku tengah menikmati konser Payung Teduh yabg digelar di Stadiun Mandala Krida, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada sebuah kabar baik dan kabar buruk, kabar baiknya Fatih sudah membelikan tiket keberangkatan ke Bandung dengan kereta pada tanggal 5 Januari nanti dan kabar buruknya Bayu batal berangkat karena pada bulan Januari nanti ada acara keluarga yang nggak bisa ia tinggalkan. Jadilah tinggal kami bertiga (Aku, Fatih, dan Fiesha) yang berangkat ke Bandung nanti.

“Kita dapetnya kereta pasundan, kahuripannya habis” ujar Fatih melalui LINE. Rencana awal kami inginnya naik kahuripan yang berangkat jam 7 malam dari Jogja sehingga tepat sampai di Bandung waktu subuh, akan tetapi mungkin karena musim liburan sehingga kami pun kehabisan tiket kereta itu dan terpaksa naik pasundan yang berangkat jam 2 siang.

“Sampai sana jam berapa berarti?” tanyaku

“Ya paling tengah malem” jawabnya

Aku segera menghubungi Udin, temanku yang kuliah di Bandung, untuk memastikan apakah aku bisa numpang di kos dia begitu sampai di sana.

“Aku balik Bandung tanggal 4 kok, jadi tanggal 5-nya udah stand by di sana”

“Oke sip, makasih ya” ujarku menutup pembicaraan.

Fokusku kembali kepada panggung, kini Sheila on 7 tengah menyanyikan lagu “Lapang Dada” di sana. Jadi juga aku berangkat ke Bandung, batinku.

 

Bersambung

GPS itu Sesat, Jendral!

Hari ini salah satu temanku, Jeje, pulang ke Berau, Kalimantan Timur. Aku sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, punya itikad baik untuk mengantarkan kepulangannya sampai bandara. Dia bilang minta dijemput jam 9, tapi begitu aku sampai asramanya dia belum kelar beres-beres.

akhirnya kami sampai bandara jam setengah 11, dia langsung pergi ke loket buat nukerin tiketnya. Pesawatnya take off jam 14:15 dan check-in baru boleh 2 jam sebelumnya. aku akhirnya menunggu sampai dia check-in, which is masih 1,5 jam lagi. berdiskusilah kami tentang hal-hal yang berbau fisika.

dua jam berlalu, dia mengurus check-in di terminal B dan harus menerima kenyataan ternyata pesawat yang akan ditumpanginya delay 45 menit. jadi dia baru take off jam 3 nanti. Jam setengah 2 aku memutuskan buat cabut duluan, Jeje juga nggak masalah kalo aku tinggal. Dia malah berterimakasih banget udah nemenin di detik-detik terakhirnya di Jogja (sedih banget nggak sih?)

kemudian setelah cabut dari bandara, aku ingat ada salah satu candi yang kata orang bagus nggak jauh dari bandara. Candi Ijo namanya, kemudian aku cari jalan ke sana pakai GPS. ketemulah rute ke sana sejauh 10 KM. keliatannya sih deket, tapi ternyata tidak semudah itu. setelah belok dari jalan piyungan-prambanan adalah jalan yang kecil dan berbatu-batu, udah macam jalan di goa cerme waktu BATRA Teater 10 dulu. Naik dan berbatu-batu. sempat khawatir juga ini motor kuat nggak sampai ke tujuan?

Walau halangan rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Kera Sakti~ (malah nyanyi?). lega juga begitu di ujung jalan menanjak ada tanda “Parkir pengunjung Wisata Candi Ijo”.

bener-bener worth it rasanya dengan medan yang sekejam itu, sayangnya di atas lagi berkabut (entah berkabut atau karena di bawah lagi mendung). padahal kalau langit lagi cerah bisa lihat kota Jogja dari ketinggian, dan yang terpenting bisa lihat bandara dan seisinya dari atas sini. Kalo malem pemandangan paling indah dari atas sini adalah kelap kelip lampu bandara. Candi ijo ini terletak di bukit ijo, itulah mengapan tempat ini cukup tinggi untuk melihat jogja dari udara. Candi ini terdiri dari 1 candi besar dan ada 3 candi kecil di sebelahnya.

merasa kayaknya cukup menikmati pemandangan alam di sini, aku memutuskan untuk balik ke realita. Aku coba mengkoneksikan lagi ke GPS tapi sinya di atas sini susah, untungnya masih ada GPS konvensional (baca: mas-mas yang jaga parkir). ternyata dari jalan menurun itu tinggal lurus aja terus udah tembus ke jalan piyungan-prambanan, jalan pulangku lurus dan manusiawi. sial GPS menyesatkanku, jadi ternyata jalan yang ditunjukkan GPS tadi jalan memutar, aku harus ke timur dulu baru ke utara terus ke barat. padahal jalan yang lurus dan benar itu hanya perlu belok ke utara dari jalan piyungan prambanan.

dan ada hal yang bikin lebih nyesek, begitu sampai di rumah aku dikabari temenku bahwa nilai matkul kimia kontekstual udah keluar. dan yah, nyess rasanya. dari 4 matkul yang udah keluar nilainya semua tidak mengubah IP ku, dan matkul kelima ini berhasil mengubahnya. dalam artian buruk ya.