GPS itu Sesat, Jendral!

Hari ini salah satu temanku, Jeje, pulang ke Berau, Kalimantan Timur. Aku sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, punya itikad baik untuk mengantarkan kepulangannya sampai bandara. Dia bilang minta dijemput jam 9, tapi begitu aku sampai asramanya dia belum kelar beres-beres.

akhirnya kami sampai bandara jam setengah 11, dia langsung pergi ke loket buat nukerin tiketnya. Pesawatnya take off jam 14:15 dan check-in baru boleh 2 jam sebelumnya. aku akhirnya menunggu sampai dia check-in, which is masih 1,5 jam lagi. berdiskusilah kami tentang hal-hal yang berbau fisika.

dua jam berlalu, dia mengurus check-in di terminal B dan harus menerima kenyataan ternyata pesawat yang akan ditumpanginya delay 45 menit. jadi dia baru take off jam 3 nanti. Jam setengah 2 aku memutuskan buat cabut duluan, Jeje juga nggak masalah kalo aku tinggal. Dia malah berterimakasih banget udah nemenin di detik-detik terakhirnya di Jogja (sedih banget nggak sih?)

kemudian setelah cabut dari bandara, aku ingat ada salah satu candi yang kata orang bagus nggak jauh dari bandara. Candi Ijo namanya, kemudian aku cari jalan ke sana pakai GPS. ketemulah rute ke sana sejauh 10 KM. keliatannya sih deket, tapi ternyata tidak semudah itu. setelah belok dari jalan piyungan-prambanan adalah jalan yang kecil dan berbatu-batu, udah macam jalan di goa cerme waktu BATRA Teater 10 dulu. Naik dan berbatu-batu. sempat khawatir juga ini motor kuat nggak sampai ke tujuan?

Walau halangan rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran.┬áKera Sakti~ (malah nyanyi?). lega juga begitu di ujung jalan menanjak ada tanda “Parkir pengunjung Wisata Candi Ijo”.

bener-bener worth it rasanya dengan medan yang sekejam itu, sayangnya di atas lagi berkabut (entah berkabut atau karena di bawah lagi mendung). padahal kalau langit lagi cerah bisa lihat kota Jogja dari ketinggian, dan yang terpenting bisa lihat bandara dan seisinya dari atas sini. Kalo malem pemandangan paling indah dari atas sini adalah kelap kelip lampu bandara. Candi ijo ini terletak di bukit ijo, itulah mengapan tempat ini cukup tinggi untuk melihat jogja dari udara. Candi ini terdiri dari 1 candi besar dan ada 3 candi kecil di sebelahnya.

merasa kayaknya cukup menikmati pemandangan alam di sini, aku memutuskan untuk balik ke realita. Aku coba mengkoneksikan lagi ke GPS tapi sinya di atas sini susah, untungnya masih ada GPS konvensional (baca: mas-mas yang jaga parkir). ternyata dari jalan menurun itu tinggal lurus aja terus udah tembus ke jalan piyungan-prambanan, jalan pulangku lurus dan manusiawi. sial GPS menyesatkanku, jadi ternyata jalan yang ditunjukkan GPS tadi jalan memutar, aku harus ke timur dulu baru ke utara terus ke barat. padahal jalan yang lurus dan benar itu hanya perlu belok ke utara dari jalan piyungan prambanan.

dan ada hal yang bikin lebih nyesek, begitu sampai di rumah aku dikabari temenku bahwa nilai matkul kimia kontekstual udah keluar. dan yah, nyess rasanya. dari 4 matkul yang udah keluar nilainya semua tidak mengubah IP ku, dan matkul kelima ini berhasil mengubahnya. dalam artian buruk ya.