Ketika Bintang Bertautan

Hai apa kabar? Nggak kerasa udah bulan Juli aja, perasaan minggu lalu masih bulan Juni. Akhir-akhir ini suhu rasanya dingin, sepertinya karena belahan bumi selatan sedang memasuki musim dingin. Ya, secara geografis kita masuk belahan bumi selatan, jadi ya kerasa gitu dinginnya. Apalagi kalau habis subuhan jam limaan gitu, kabarnya malah di Jogja sempat mencapai suhu terendah yaitu 18 derajat Celcius.

Tetapi beda cerita kalau di belahan bumi utara. Bulan Juli itu identik sama musim panas, apalagi di negara sub tropis ada gitu yang namanya liburan musim panas, sebulan penuh gitu liburnya. Asyik ya? Biasanya nih kalau menjelang musim panas, ada sebuah pemandangan yang bisa kita lihat pas malam hari. Namanya segitiga musim panas, yaitu tiga buah bintang yang kalau kita tarik garis membentuk segitiga sama kaki.


Bintang-bintang itu adalah Deneb, Altair dan Vega. Mereka trio yang biasanya muncul saat awal-awal musim panas, makanya disebut segitiga musim panas. Deneb itu bintang paling cerah dari rasi bintang Cygnus, Altair bintang paling cerah dari rasi bintang Aquila, dan Vega bintang paling cerah dari rasi bintang Lyra. Trio ini juga sering banget muncul di film-film, apalagi kalau suka nonton Anime atau Serial TV Asia. Kedatangan mereka sangat dinanti-nanti karena jika mereka sudah muncul di langit utara tandanya musim panas sudah tiba. Bahkan trio ini pernah masuk dalam lirik lagu juga, salah satunya ada lagu Kimi no Shiranai Monogatari yang dinyanyikan oleh band asal Jepang Supercell.

Di lirik keduanya

“are ga DENEBU, ARUTAIRU, BEGA”
kimi wa yubisasu natsu no daisankaku
oboete sora o miru
yatto mitsuketa orihimesama
dakedo doko darou hikoboshisama
kore ja hitori bocchi

Translate:

“There’s Deneb, Altair, and Vega.”
You pointed out the summer triangle.
I remember and look at the sky.
Finally found Orihime-sama,
But where’s Hikoboshi-sama?
That’s a bit lonely.

Lagu itu menceritakan ada seorang laki-laki mengajak teman-temannya menonton bintang, dan terlihat di langit ada tiga bintang yang bersinar terang. Ketiganya membentuk segitiga kalau ditarik garis, nah itulah yang disebut segitiga musim panas. Disebutkan juga di liriknya ada yang namanya Orihime-sama dan Hikoboshi-sama, sebenarnya ada cerita menarik dari trio ini. Menurut mitologi cina, alkisah ada seorang gadis penenun yang jatuh cinta dengan seorang penggembala sapi. Gadis penenun itu digambarkan dengan bintang Vega dan penggembala sapi itu digambarkan dengan bintang Altair. Cinta mereka berdua tidak direstui oleh orang tua si gadis, ada berbagai macam versi sebenarnya. Salah satu versinya orangtua si gadis penenun tidak setuju dia menikah dengan rakyat biasa, karena di sini diceritakan si gadis penenun adalah tuan putri dari keluarga dewi.

Versi lain menyebutkan bahwa setelah mereka berdua menikah, gadis penenun dan penggembala sapi jadi malas bekerja, sehingga mereka berdua dipisahkan dan hanya boleh bertemu satu tahun sekali yaitu saat hari ketujuh di bulan ketujuh dalam kalendar Cina. Keberadaan mereka berdua dipisahkan oleh sebuah sungai yang digambarkan dengan  milky way, saat mereka bertemu ada sekawanan burung kasaagi saling berjajar membentuk jembatan untuk menghubungkan mereka berdua. Romantis ya? Nah bintang ketiga (Deneb) inilah yang menggambarkan jembatan untuk mereka berdua bertemu.

Di Jepang si gadis penenun ini diberi julukan Orihime-sama, karena ia digambarkan sebagai seorang tuan putri langit. Dan si penggembala sapi diberi nama Hikoboshi-sama, itulah kenapa lirik lagunya seperti itu. Hari di mana Orihime-sama dan Hikoboshi-sama bertemu dirayakan dalam sebuah festival, di Jepang disebut dengan Festival Tanabata, di Cina disebut dengan Festival Qixi dan di Korea disebut dengan Festival Chilseok. Karena kebetulan ketiga bintang itu muncul di bulan Juli, yang mana mulai pergantian musim dari musim semi ke musim panas untuk belahan bumi utara, maka ketiga bintang ini disebut segitiga musim panas (summer triangle).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *