Sebuah Catatan Harian Pelajar Cupu

Halo, apa kabar? Gimana nih puasanya? Nggak kerasa lebaran tinggal 23 hari lagi ya.

Kemarin aku habis nge-review postingan blogku dari dulu-dulu banget, dari jaman-jamannya pakai blogger sampai punya domain sendiri kayak sekarang ini. Yah, itu berhasil membuat perutku mules. Entah mengapa postingan di blogku yang dulu isinya cuma cinta-cintaan, walaupun emang konsep blog ini diary tapi kayaknya dulu aku kebanyakan curhat di blog. Bener-bener overdosis deh tuh curhatan.

Selain itu, aku juga ngerasa isi postinganku dulu cuma mengungkap keapesanku aja. Ada aja yang dikeluhin tiap postingan, dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit ngeluh, ngeluhnya dikit-dikit. Hampir tiap postingan pasti ada kata-kata macam “Kesialan” “Apes” bahkan kata-kata umpatan lain macam “Kampret” dan sekawanannya. Segitu depresinya kah diriku di masa lalu? (ngomong sama cermin)

Tetapi, itulah yang disebut sebuah proses. Keberanianku dalam menulis patut diacungi jempol, berbeda dengan sekarang. Sekarang ini aku cenderung terlalu banyak pertimbangan dalam menulis sehingga jatuhnya malah nggak jadi nulis. Dulu, dengan santainya aku bisa menulis apapun yang aku mau, bahkan curhat satu arah di blog kayak gini. Walaupun sekarang aku sadar bahwa itu hal yang aib bagiku sekarang, mungkin di waktu yang akan datang juga, tetapi itulah tulisanku. Itulah yang disebut sebuah proses. Tentu kita nggak mungkin bisa buat masakan sekelas hotel bintang lima saat kali pertama memasak kan? begitu juga dengan tulisan, kunci untuk menjadi penulis itu hanya satu, mulailah menulis. Seperti yang pernah dikatakan Alitt Susanto “Penulis adalah orang yang nggak pernah berhenti nulis, bukan yang cuman nulis sekali-duakali doang.”

Ada sebuah komik strip juga di facebook yang memberiku pencerahan

Seperti itulah kira-kira yang aku rasakan saat ini.

Dan setelah me-review beberapa postingan, aku jadi agak merasa nostalgia dengan kehidupanku masa SMP dulu. Padahal aku merasa itu bukan suatu hal yang penting, namun menjadi sangat berkesan di hati. Bahkan hal sekecil jalan-jalan ke toko buku ataupun berbagi popcorn pas nonton di bioskop bisa bikin senyum-senyum sendiri pas di baca ulang. Berbeda dengan SMA ini, banyak kejadian-kejadian yang harusnya berkesan tetapi rasanya hanya hinggap sementara aja, Kejadian-kejadian seperti pagelaran perdanaku dulu di teater maupun waktu karya wisata ke Bali saat kelas XI, harusnya itu menjadi hal yang berkesan. Tetapi rasanya seperti ada yang hilang. Hingga aku sadar, sebuah kenangan itu berarti bukan karena berkesan. Tetapi, karena kita menuliskannya sehingga bisa kita baca di waktu yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *